Senin, 15 April 2013

Cintaku Berawal dari Facebook, Berlanjut ke BBM

Huhuhu, agak norak sih ya judulnya, tapi saya mau share tentang kisah cinta saya sendiri, yang didalamnya turut terdapat andil SimPATI. Simak yaa...

Kalau saya ditanya, sebutkan salah satu benda yang cukup penting keberadaannya dalam hidup saya maka saya tak akan ragu menjawab BlackBerry. Kenapa? Hmmm...sebenarnya BlackBerry saya gak canggih-canggih amat, bahkan bisa dibilang sudah agak ketinggalan zaman. Tipe BB yang saya gunakan adalah Gemini, itupun dibeli second dari teman saya, hampir 3 tahun yang lalu. Namun jangan ditanya, benda satu ini sangat berjasa dan punya nilai historis yang tidak akan pernah saya lupakan.

Dulu, sewaktu belum punya BB, saya hanya memainkan Facebook di PC rumah dan lewat handphone. Kebetulan handphone saya walau agak sederhana juga bisa untuk internetan, Twitter sih ada, tapi hanya sesekali dilongok. Jaman itu, yang lagi ngehits ya Facebook. 


Facebook memang memungkinkan kita untuk kenal dengan orang-orang baru, termasuk temannya teman kita. Hal itulah yang juga terjadi pada saya. Teman saya, Astri, merekomendasikan temannya untuk berkenalan dengan saya. Namanya Haryo. Astri meminta saya untuk meng-add temannya itu, karena dia tahu saat itu kami sama-sama jomblo. Saya merasa tidak terlalu tertarik dengan tawarannya, lalu Haryo yang lebih dulu meng-add facebook saya. Saya meng-confirmnya dan kami pun resmi berteman, hehe..

Meskipun sudah berteman, ternyata tidak ada perubahan. Haryo tak pernah menyapa saya, saya juga segan untuk menyapa dia duluan. Yang saya lakukan hanya sesekali membuka laman facebooknya dan membaca yang tertulis disitu (stalking kali ya, haha) dari apa yang saya lihat di profil dan wall facebooknya, Haryo adalah cowok yang baik dan sopan. Dia juga sepertinya bukan tipe cowok norak yang senang eksis, malah dia suka menghilang. Hal ini membuat saya jadi penasaran. 

Akhirnya dengan sedikit bantuan dari Astri, saya mulai berani untuk berinteraksi dengan cowok ini, dari mulai like status lebih dulu, sampai ke acara komen foto, dan berlanjut hingga inbox-inboxan, ceileee...Saya tahu, Haryo sudah menggunakan BB lebih dulu, sedangkan saya hanya bermodalkan handphone biasa. Namun hal itu tidak membuat saya surut, malah saya senang, karena dia menggunakan BB maka dia selalu bisa tahu setiap saya mengirim inbox kan? Dan memang begitulah yang terjadi, Haryo selalu membalas inbox yang saya kirimkan dengan cepat. Saya senang, saya merasa dihargai dan semakin yakin kalau dia juga ada hati sama saya (ehemm).



Lalu, kebetulan teman saya berniat menjual BB Gemininya karena ia berniat mengganti dengan tipe lain. Tanpa pikir lama-lama, saya menyatakan bahwa saya berminat membeli BB-nya. Jadilah saya semakin dekat dengan Haryo, dan sejak kita berdua sudah bisa BBM-an, maka kita pun jadi makin dekat. Pagi, siang, sore, malam, wajib kirim kabar. Padahal kita belum ada status apa-apa. Tadinya saya sempat bimbang loh, mau pilih provider apa, tapi karena Haryo sudah memakai SimPATI dari awal, saya pun ikut saja. Bukankah lebih baik kalau kita punya kartu yang sama? (eaaa...padahal belum jadian) dan Haryo pun mengatakan bahwa sinyal SimPATI dari Telkomsel yang paling oke. By the way...dengan komunikasi yang intens, dan sisipan emoticon-emoticon yang lucu, akhirnya kita pun jadian di BBM, saya nggak pernah lupa, kita jadian setelah sahur pada bulan Ramadhan tahun 2011. Tepatnya tanggal 13 Agustus. 



Sampai saat ini, hubungan saya dan Haryo sudah berjalan hampir 2 tahun. Saya tentunya nggak bisa lupa akan jasa BlackBerry saya, dan tentunya SimPATI sebagai provider yang sinyalnya selalu stabil dan gak bikin emosi. Kita berdua selalu pakai paket BIS Sosialita, dengan harga yang terjangkau namun manfaatnya banyak sekali. Coba lihat disini dan lihat iklannya yang keren disini. 

Jadi, saya gak bohong kalau saya mengatakan I Love SimPATI, dan ingin mengucapkan terimakasih telah membuat kami berdua semakin dekat :)



Senin, 08 April 2013

It's All About LUCK: Mau Lucky Juga Perlu Usaha Lho...

Keberuntungan, luck, atau hoki. Yup, siapa sih yang enggak suka jadi orang yang beruntung? Jadi orang yang nasibnya selalu baik, hidupnya enak tanpa harus melakukan usaha yang berarti. Seperti tokoh Untung Angsa di komik Donal Bebek itu, keberuntungan seperti teman yang setia mengiringinya kemanapun ia pergi hingga membuat yang lainnya iri. Tapi tunggu dulu...memang di kehidupan nyata ada ya orang seperti itu? 



Hmm..kamu semua pasti punya twitter. Pernah dengar istilah kuis hunter atau kuter di twitter dong? Atau jangan-jangan kamu salah satu dari mereka? Coba aja ketik kata "kuis" di  tab search twitter, maka akan bermunculanlah kuis-kuis yang sedang diselenggarakan oleh bermacam akun. Mulai dari kuis berhadiah kecil seperti tiket nonton, merchandise, pulsa, atau produk gratis, sampai kuis yang hadiahnya wah seperti uang, gadget, kamera, motor, sampai mobil (yah semakin besar hadiahnya maka tingkat kesulitan kuisnya juga makin besar)

Akun-akun yang khusus menyediakan info kuis juga cukup banyak, dan coba lihat jumlah followers mereka, rata-rata ribuan, cyin. Itu artinya banyak juga orang yang membutuhkan informasi seputar kuis apa saja yang sedang diselenggarakan. Dan kalau kita termasuk sering ikutan dan menyimak jawaban-jawaban kuis tersebut, bisa dilihat kalau orang yang ikutan biasanya itu-itu saja. Ada kuter yang termasuk senior, artinya dia sudah ikut kuis di twitter sejak lama. Biasanya followers mereka sudah diatas 1000 dan sudah kenyang dapat hadiah, sejak twitter masih sepi, sampai sehits sekarang. Dan paling enggak, mereka sudah pernah dapat hadiah gadget. Biasanya loh yaaa....Trus ada juga kuter-kuter menengah yang baru setahun terakhir ikutan kuis, dan kuter junior alias pemula.

Saya sendiri? Saya baru rajin mengikuti kuis di twitter sejak bulan Maret 2012. Setelah pada Februari di tahun yang sama dapat hadiah juicer yang lumayan mahal dari website sebuah majalah wanita ternama. Pada akhirnya saya mengetahui bahwa ternyata twitter merupakan "sarang kuis." Setelah setahun sebelumnya hanya saya gunakan sebagai ajang curhat semata, saya mulai mencoba mengikuti kuis-kuis di twitter. Awalnya sih, masih rada-rada bingung, tapi seiring berjalannya waktu, makin lancarlah saya, sudah hafal bagaimana karakter masing-masing akun :)

Setelah setahun lebih rajin mengikuti kuis di twitter, alhamdulillah saya sudah dapat "merasakan manfaatnya". Jumlah followers bertambah (paling seneng sih kalau difolback oleh akun brand ternama karena kita menang kuisnya), belum pernah menang gadget sih, namun lumayan sering dapat hadiah tiket nonton (screening/gala premier, lumayan bisa ketemu dan foto-foto bareng artis #eeaaa), dapat buku gratis, dapat voucher makan /belanja, uang tunai, tiket konser, langganan majalah, dan lain-lain. Lumayan loh, untuk dipakai malam mingguan sama pacar #ihhiyyy




Yang membuat saya senang dari ikutan kuis adalah kita bisa berkompetisi secara fair, pas dengan karakter zodiak saya, Libra, yang katanya pencinta keadilan. Namun ada juga loh kuter-kuter curang yang menghalalkan segala cara untuk bisa menang, apalagi kalau hadiahnya menggiurkan, gadget mutakhir misalnya. Maka mereka menggunakan cara-cara yang licik, mulai dari hal curang "sederhana" seperti copy paste jawaban orang lain (yang belum tentu benar), hingga memakai aplikasi (misalnya fitur retweet atau like otomatis). Sebenarnya kuis itu kan untung-untungan, ngapain juga harus ngoyo kayak gitu? Memangnya senang dapat hadiah dari hasil curang? Saya sih enggak. Enggak bakalan puas dan bangga juga karena bukan didapat dari hasil perjuangan. 

Teman-teman saya sering ngomong "hoki banget sih lo" "lo rajin banget sih ikut kuis, gak ada kerjaan ya?" atau "kok lo menang mulu sih? Gue aja enggak pernah." Saya termasuk orang yang senang ngomporin teman-teman saya untuk ikutan kuis juga. Ada beberapa yang kena "racun" saya (namun pada akhirnya padam lagi, hadeeh) namun ada pula yang apatis. Dia mengatakan "ah percuma gue ikut kuis, enggak bakalan menang juga" lalu saya tanya "udah dicoba belom?" Dia bilang belum, karena nanti hasilnya percuma saja. 

Nah! Yang kayak gini ini harus dihindari. Bukan hanya dalam hal perkuisan saja, tapi dalam kehidupan sehari-hari. Belum apa-apa kok sudah nyerah. Kalah sebelum berperang dong judulnya. Esensi sebenarnya adalah berani mencoba. Kamu gak akan menang kuis kalau gak mencoba kirim jawaban. Kalau kamu mencoba kirim jawaban apakah ada ruginya? Enggak juga kan. Justru kamu malah punya peluang untuk menang. Nothing to lose-lah :)

Jadi intinya, yang namanya keberuntungan atau hoki itu juga perlu usaha. Kamu mau menang kuis? Usaha untuk ikutan. Mau banyak uang? Ya cari kerja atau usaha sambilan. Mau jadi bintang fim atau penyanyi? Ikutan aja acara casting atau pencarian bakat. Sederhana kan? Asal ada niat pasti kamu bisa.

Masih mikir kalau keberuntungan itu jatuh dari langit sementara kamu enak-enak tidur? Yuk kita usaha lagi. Karena sebenarnya Tuhan memang sudah menjamin rezeki untuk tiap-tiap umatNya, Ia hanya ingin melihat kita berusaha untuk mendapatkan rezeki tersebut. Setelah itu, barulah kamu bisa menikmati hadiahnya. Yeaaayy....




Tulisan ini diikutsertakan dalam Chic Blog Competition 2013 #Lucky8Bday














Rabu, 06 Maret 2013

HASDUK BERPOLA: Kembali Mengingat Pramuka Yuuk...

Beberapa bulan belakangan, saya sering membaca film dengan judul unik dan agak tak biasa: "Hasduk Berpola" di Twitter, penasaran, saya lalu mengklik akun tersebut (@hasdukberpola) dan memfollownya, lalu saya telusuri timelinenya, menonton trailernya, dan pada akhirnya saya cukup penasaran dengan film tersebut. Seperti ini nih posternya:




Mengapa? Karena di tengah gempuran film-film remaja dan dewasa, anak-anak kita membutuhkan film yang cocok dengan usia pertumbuhan mereka. Film-film anak dalam negeri, asalkan dikemas dengan baik,  tak kalah menariknya dengan film anak buatan Hollywood, kita pasti masih ingat dengan film Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi yang meraup sukses itu bukan?

Sinopsis Hasduk Berpola yang saya baca begini :

"Film ini bercerita bahwa perjuangan bertaruh nyawa demi bangsa dan negara pada jaman kemerdekaan, ternyata tak ada harganya. Ini yang dirasakan oleh Masnun, veteran mantan pejuang ’45. Di Surabaya, yang konon terkenal sebagai kota pahlawan, hidup Masnun (yang sering dielu-elukan sebagai pahlawan) justru terlunta-lunta. Sangat ironis. Ia bersama anaknya, Rahayu, janda beranak 2 (Budi dan Bening), akhirnya menyerah, dan pindah ke kota asalnya, Bojonegoro. Berharap kehidupannya bisa membaik. Namun apa daya, kehidupan pria renta yang terkenal sebagai saksi hidup peristiwa penyobekan bendera di Surabaya ini, justru semakin terpuruk.

Sang cucu, Budi (12 thn), tertantang untuk mengalahkan rivalnya, Kemal, yang aktif di kegiatan Pramuka. Maka ia juga berusaha untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tapi karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, Budi tidak bisa membeli semua perlengkapan kepramukaan. Film ini menceritakan bagaimana Budi berjuang memenuhi kewajibannya, hingga akhirnya membuat iba Bening (10 thn) adiknya yang rela mengorbankan seprei kesayangannya demi dibuat hasduk untuk kakaknya."

Ide cerita Hasuk Berpola cukup simpel, yaitu tentang seorang anak dari keluarga yang tidak berpunya. Ia kebetulan cucu dari seorang pejuang kemerdekaan yang terabaikan. Anak itu harus berjuang keras untuk mendapatkan sebuah benda sederhana yang tak mampu dibelikan oleh ibunya, yaitu sebuah hasduk demi mengikuti kegiatan kepramukaan di sekolahnya. Bagaimanakah akhirnya? Apakah perjuangan anak itu membuahkan hasil?

Saya memiliki pengalaman mengajar di sebuah tempat les menggambar yang mayoritas muridnya adalah anak-anak dari keluarga kaya raya. Anak-anak yang masih sangat belia tersebut sudah tak asing lagi dengan gadget seperti smartphone dan tablet. Di satu sisi hal tersebut cukup positif karena mereka sudah melek teknologi sejak dini, namun disisi lain, saya merasa miris mendengarnya. Anak-anak ini seperti sudah 'ketergantungan' dengan benda-benda tersebut. Ada anak yang bahkan berangkat les karena diiming-imingi oleh orangtuanya nanti boleh memainkan tabletnya. Anak-anak ini bahkan hanya mengetahui mal sebagai tempat rekreasi yang paling mengasyikan. Berbeda sekali dengan jaman saya sekolah dulu ketika saya sama sekali tak mengenal gadget. Masa kecil saya dipenuhi mainan-mainan 'biasa' seperti congklak, bekel, sepeda, petak umpet, petak jongkok, mainan digital yang ada hanya video game dan permainan komputer.

Saya miris karena anak-anak di jaman digital sekarang ini pastinya sudah jarang atau mungkin tidak mengetahui nilai-nilai luhur kepramukaan. Bahkan anak-anak SD saja sudah memiliki smartphone dan sering mengupdate status BBM atau Facebook bahwa mereka malas sekolah, hanya ingin bermain dan jalan-jalan. Obrolan-obrolan mereka jauh dari obrolan standar anak, dimana mereka saling menyombongkan tempat liburan siapa yang lebih enak, mobil siapa yang lebih bagus, smartphone siapa yang lebih canggih, sudah menonton film dari aktor si anu belum (yang jelas-jelas sebenarnya film itu bukan ditujukan untuk usia mereka). Terus terang hal ini sangat menggelitik perasaan saya.

melihat trailer film Hasduk Berpola saya seperti menemukan sebuah kedamaian, seperti menemukan kepingan puzzle yang hilang. Saya melihat disitulah kodrat anak-anak sekolah yang semestinya. Bahwa mereka mestinya belajar dan menemukan banyak hal baru di luar, lewat kepramukaan. Dari film Hasduk Berpola ini saya ingin anak-anak nanti menyadari bahwa hidup konsumtif akan memupuk sifat serakah, dan agar mereka juga dapat mensyukuri hidupnya karena mengetahui bahwa di luar sana masih banyak teman-temannya yang  bernasib kurang beruntung. Semoga film ini sedikit banyak dapat memberikan inspirasi bagi kita dan anak-anak, dan semoga anak-anak kita dapat kembali ke dunia mereka yg semestinya, dunia anak-anak yang polos, dan penuh warna :) 





Minggu, 03 Maret 2013

Nonton Konser Tunggal Ari Lasso Sang Dewa Cinta #SDC2013


Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan tiket gold konser tunggal Ari Lasso dari majalah Femina, surprise soalnya harga tiketnya cukup fantastis bagi saya, Rp. 1.810.000,- seorang (saya dapat 2 buah) dan untuk tiket-tiket seharga 3 jutaan itu, saya cukup membayar pajak sebesar 5% (Rp. 181.000,-). Karena nggak terlalu ngefans sama Ari Lasso, saya gak jejingkrakan, saya cuma kaget aja, karena selama sejarah saya ikut kuis, hadiah inilah yang nominalnya paling mahal yang pernah saya terima. Tadinya sih mau saya jual...tapi...karena tiket yang saya dapatkan merupakan tiket khusus untuk media partner, di tiket itu tertera tulisan 'not for sale' dan tercantum harga Rp. 360.000. Kalau saya jual dengan harga sejutaan entar pada protes lagi, dan juga waktunya mepet banget. Acaranya hari sabtu, saya baru mengambil tiket itu hari jumat siang...jadi akhirnya saya dan pacar sepakat untuk menggunakan sendiri tiket itu. Ya sekali-kali pacaran sambil nonton konser mahal...hehe.



Di Hari H, kami cukup kebingungan mencari tempat konsernya (Plenary Hall, JCC). Di sekitar daerah Senayan malam itu cukup ramai karena sedang diadakan pertunjukan lainnya dengan massa yang cukup banyak, diantaranya band Stone Roses, wedding expo, dan pagelaran drama musikal Hanoman. 

Setelah muter-muter sambil sekalian mencari tempat parkir dengan perasaan kesal dan panik karena takut telat, sampailah kita di lokasi. Memegang tiket konser yang harganya 'wah' kayaknya memberikan sensasi yang beda buat kita, jadi lebih pede gitulah, ada perasaan diistimewakan, hehe. Tapi di gerbang pemeriksaan, satu pak wafer yang saya bawa untuk cemilan diambil. Why oh why? -__-

Setelah masuk, kami mencari tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket. Saat itu jam menunjukkan pukul 20 lewat seperempat, tapi ternyata konsernya baru dimulai pukul 20.30, dan saya lupa bahwa saya tidak membawa air minum, bagusnya sih ini konser dengan iringan orkestra dan kita bisa duduk tenang, coba kalau konser heavy metal, pingsan kehausan kalik saya -_-

Ari Lasso muncul dengan setelan jas hitam membawakan lagu Rahasia Perempuan, disusul dengan Mana Ku Tahu, setelah itu ia menyapa penonton. Ternyata Ari Lasso adalah orang yang cukup kocak dan komunikatif dengan penontonnya, kalau kata Titi DJ, Ari Lasso adalah temannya yang paling "jawir" karena logatnya yang medok.



Di konser Sang Dewa Cinta itu, Ari Lasso juga menghadirkan Bunga Citra Lestari; sang mantan ibu negara- Ainun, Melly Goeslaw dan Titi DJ. Seperti biasa, Melly Goeslaw tampil dengan kostum yang cukup nyeleneh, dengan rambut yang berwarna putih, 'the one and only Melly Goeslaw " kata Ari. Ia berduet dengan BCL pada lagu Karna Aku Tlah Denganmu dan Aku dan Dirimu, Jika dengan Melly, dan Perbedaan dengan Titi DJ.

Ari juga mengajak penonton untuk menyanyikan lagu "Tanah Air" bersama-sama untuk Indonesia, dilanjut dengan "Badai Pasti Berlalu" kemudian ia membawakan lagu-lagu hitsnya yang lain seperti Tulus, Patah Hati, Arti Cinta, Cintai Aku Sepenuh Hati, Misteri Ilahi, Penjaga Hati, dan lain-lain, semua diiringi Magenta Orchestra pimpinan Andi Rianto.

Anak-anak Ari Lasso, Audra dan Abraham, sempat  mengejutkan ayahnya dengan naik ke panggung membawakan refrain lagu Misteri Ilahi, hal ini sempat membuat Ari berkaca-kaca, lalu ia juga mengajak Vita, istrinya naik ke panggung, lalu Ari meminta istri dan anaknya membungkuk ke arah penonton sebagai ucapan terimakasih mereka. 

Bagian terseru dari konser ini saat Dewa 19 muncul. Saya lumayan suka lagu-lagu Dewa 19, seperti Restoe Boemi, Kangen, Aku Milikmu, Satu Hati, Kirana dan Cukup Siti Nurbaya. Sayangnya di konser kemarin Aku Milikmu dan Kirana gak dibawakan, tapi lumayan juga sih, cukup menyenangkan untuk bernostalgia. Saya suka karakter suara Ari Lasso jaman dulu ketika masih melengking, cocok banget bawain lagu-lagu Dewa. Konser pun ditutup dengan lagu Hampa, Mengejar Matahari, lalu karena penonton masih pingin lagi, dengan mengenakan kaos oblong, Ari menyanyikan lagu Kamulah Satu-satunya.



Konser berakhir pada pukul 23.30an. Gak nolak kalau dapet hadiah tiket konser lagi, tapi mesti pikir-pikir baliknya kali yaa...secara malem banget bo -__-

stiker di bangku, diambil untuk kenang-kenangan (idenya pacar) hehe..




Antara Cewek, Motor Mogok dan Jiwa Ksatria...



Ini kejadian beberapa hari lalu di perempatan Kelapa Gading. Tau dong riuhnya traffic disana kayak apa. Saat itu, lampu merah sedang menyala. Saya memperhatikan satu persatu pengendara motor lainnya, pandangan saya berhenti ke pengendara motor yang berada 2 baris di depan saya. Karena jaraknya renggang-renggang, saya bisa melihat dengan jelas sosok cewek berambut panjang dengan dandanan yang kelihatannya modis. Ia naik motor matic. Tapi tiba-tiba saja sesuatu terjadi, mesin  motornya mendadak mati, saya liat ia mencoba menstarter motornya, sekali tidak bisa, dua kali tidak bisa juga, tiga kali tetap tidak berhasil. Sepertinya ia mulai terlihat panik. Setelah usaha ke empat gagal lagi, saya melihat cewek itu menepikan motornya dan mencoba menyalakan di pinggiran jalan


Saya melihat reaksi beberapa pengendara motor lain yang semuanya berjenis kelamin laki-laki, tak ada yang bergerak untuk menolong cewek itu. Ada yang sepertinya ingin menolong tapi ragu, ia hanya melihat kearah cewek tersebut, yang lain? Seperti hanya menikmati kepanikannya. Saya? Apa saya bisa menolongnya sementara motor saya sendiri juga sering mengalami masalah serupa? Tak lama kemudian lampu merah berganti hijau, motor-motor kembali melaju kencang. 

Saya masih memikirkan kejadian tadi, bagaimana bila hal itu terjadi kepada saya. Motor saya sering mogok, tidak diragukan lagi, tapi syukurnya kalau sudah dipakai jalan, motor saya jarang sekali mati mesinnya. Saya mash memikirkan, bagaimana senadainya saya ada di posisi cewek tadi, pasti saya akan panik sekali. Kalau motor saya bertingkah, sudah tentu saya akan mencari pertolongan. Tapi di perempatan itu siapa yang bisa menolong? Saya hanya melihat pedagang masker. Tapi seapes-apesnya, diseberang lampu merah itu ada pos polisi, jadi setidaknya ia bisa menyebrang meminta pertolongan polisi bila motornya tak kunjung hidup juga. Cewek tadi masih beruntung karena masih sempat meminggirkan motornya sebelum lampu merah berganti hijau. Tapi yg masih bergelayut di benak saya adalah: kenapa para pengendara motor lain (pria) tidak ada yg tergerak menolong cewek tersebut? Kok tega-teganya mereka hanya menonton, tak adakah jiwa ksatria dalam diri mereka? Atau hanya kepepet karena waktu dan tempatnya tidak tepat? Cowok-cowok adakah yang bisa bantu menjawab??

 Hmm…Semoga saja di dalam hati mereka masih memiliki rasa iba, karena jujur saya kasihan sekali pada cewek itu dan berharap saya tidak akan pernah mengalami kejadian seperti itu.

Rabu, 17 Oktober 2012

Review Buku -- I Love My Boss by Alberthiene Endah

Karina Dewi seneng banget ketika akhirnya ia mendapatkan pekerjaan lagi setelah sekian lamanya menganggur. Ia menjadi sekretaris dari sebuah perusahaan event organizer terkemuka di pusat Jakarta. Banyak hal baru yang ia temui di kantor barunya ini, antara lain teman-teman kantor yang "sinting" dan juga...boss yang ganteng banget....tapi juga "sinting"!

Namanya Rene Natalegawa. Seorang laki-laki tampan, masih muda, charming, hangat dan pastinya...kaya. Satu poin plus lagi adalah, ia tengah diambang perceraian dengan istrinya yang super duper posesif dan bisa dibilang psikopat, Mariska. Tapi bukannya mencurigai Karina, Mariska malah menaruh kepercayaan kepadanya untuk memata-matai Rene, sang suami yang selalu salah dimatanya!

Keadaan sebenarnya tidak akan menjadi rumit, kalau saja Karina tidak jatuh cinta sama bossnya sendiri,  dan kok Rene juga seperti menunjukkan tanda-tanda tertarik padanya? Lalu gimana cara Karina mengatasi Mariska yang selalu menjadi hantu bagi Rene? Akankah Rene jadi bercerai dan menikahinya? Yang jelas, endingnya agak susah ditebak. Baca aja deh ya, ceritanya ringan, segar dan menarik. Khas Alberthiene Endah pokonya...


Review Buku -- Morning, Noon & Night by Sidney Sheldon

Satu lagi cerita misteri menggigit milik si pencerita andal Sidney Sheldon. Morning, Noon  & Night bercerita tentang seorang multi jutawan bernama Harry Stanford yang memiliki hidup sensasional namun misterius. Sosoknya yang keren dan gagah, ditambah lagi kekayaannya yang berlimpah ruah, menjadikan ia tetap digilai wanita meskipun usianya sudah tak muda lagi. Harry Stanford memiliki tiga orang anak yang tak pernah disukai dan menyukainya. Mereka adalah Tyler, seorang hakim keliling, Woodrow alias Woody, yang tampan namun seorang pemadat, dan Kendall, perancang busana yang sukses di Perancis. Suatu hari Harry Stanford mengalami kecelakaan di atas kapal pesiarnya yang mengakibatkan ia tewas tenggelam. Pengawal pribadinya, Dmitry Kaminsky merupakan saksi mata tunggal atas peristiwa tersebut. Sepeninggal Stanford, ketiga anaknya yang tak pernah berkumpul mulai mengurus warisan ayah mereka yang superkaya. Masing-masing sudah mengkhayalkan menjadi miliuner, namun ternyata muncul seorang wanita muda cantik yang mengaku sebagai Julia Stanford, anak Harry Stanford dari bekas pengasuh mereka. Apakah Julia benar-benar anak kandung Harry Stanford, atau hanya mengaku-aku? Lalu apakah benar kejadian yang menimpa Harry Stanford murni kecelakaan atau ada unsur kesengajaan? Lalu siapa sebenarnya yang memiliki niat jahat? Pengacara muda Steve Sloane mencoba menelusuri kasus ini. Well..baca sendiri aja ya, seru kok. Yang jelas penuh intrik dan semua itu terjadi hanya karena satu hal: sakit hati. Makanya hati-hati ya kalo berbicara atau bertindak :)